Inovasi TPA Winong, Dari Tumpukan Sampah Menjadi Sumber Energi

Redaksi

  



FAKTAJURNAL. COM BANJARNEGARA – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Winong kini bukan lagi sekedar titik akhir pembuangan sampah yang kumuh dan berbau. Pengelola TPA mulai mengelola persoalan lingkungan tersebut menjadi peluang ekonomi melalui teknologi pyrolisis dan pengolahan kompos.


Upaya ini menjadi jawaban atas tantangan klasik persampahan, yaitu bagaimana mengurangi volume limbah sekaligus menghasilkan nilai tambah.


Strateginya adalah pemisahan di hulu, sampah organik kembali ke bumi sebagai nutrisi, sementara sampah plastik dikonversi menjadi "emas hitam" alias bahan bakar minyak (BBM).



Kepala UPT TPA Winong, Andar Wahono, menjelaskan bahwa sampah anorganik, khususnya plastik, kini tidak hanya dibiarkan menumpuk.


Melalui mesin pyrolisis, plastik dipanaskan dalam suhu tinggi tanpa oksigen untuk menghasilkan bahan bakar cair.


"Untuk sampah organik masih kami olah menjadi kompos. Sedangkan sampah anorganik digunakan untuk alat pyrolisis yang menghasilkan BBM," ujar Andar pada Kamis (25/2/2026).


Teknologi ini bekerja dengan memecah struktur kimia plastik menjadi cairan yang dapat digunakan sebagai alternatif energi. Meski potensinya sangat besar untuk memangkas timbunan plastik di TPA, Andar mengakui operasionalnya masih menghadapi kendala teknis.


"Saat ini mesin baru beroperasi tiga hari sekali. Kendala utamanya adalah keterbatasan tenaga operasional. Kami masih kekurangan personel untuk menjalankan mesin ini secara rutin setiap hari," ungkapnya.


Tak hanya fokus pada energi, TPA Winong juga tetap konsisten menggarap sampah organik. Kepala DPKPLH Banjarnegara, Herrina Andri Hastuti, menegaskan bahwa pupuk kompos hasil olahan TPA terus dikembangkan untuk mendukung sektor pertanian dan penghijauan di sekitar lokasi.


"Upaya inovatif ini adalah bagian dari strategi besar kita untuk pengurangan sampah menuju sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan," kata Herrina.


Menurutnya, kompos yang dihasilkan menjadi solusi pupuk ramah lingkungan bagi masyarakat sekitar, sekaligus memperkuat komitmen TPA Winong sebagai pusat ekonomi sirkular.


Dengan kombinasi antara pengolahan pupuk hijau dan teknologi konversi energi, TPA Winong diproyeksikan menjadi percontohan pengelolaan sampah yang tidak lagi berorientasi pada "kumpul-angkut-buang", melainkan "olah-manfaat-jual".


Tentu, program ini membutuhkan dukungan lebih lanjut. Pengelola berharap ke depan ada tambahan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung agar mesin pirolisis dapat bekerja maksimal setiap hari. Jika hal ini terwujud, impian Banjarnegara untuk bebas dari krisis sampah plastik bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan manfaatnya secara ekonomi oleh masyarakat luas.*** (red).

3/related/default