Tanamkan Budaya Antikorupsi Sejak Dini, Inspektorat Gelar Program Penguatan Integritas Peserta Didik

Redaksi

 



FAKTA JURNAL.COM BANJARNEGARA - Inspektorat Kabupaten Banjarnegara terus memperkuat benteng moral dan karakter generasi muda dari ancaman perilaku koruptif sejak dini. Berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora), diselenggarakan kegiatan penguatan integritas peserta didik bertajuk Banjarnegara Muda "berani jujur, hebat masa depan" di GOR SMP Negeri 1 Mandiraja, Kamis (23/7/2026).


Kegiatan penguatan integritas ini diselenggarakan sebagai langkah nyata internalisasi nilai-nilai antikorupsi secara sistematis dan berkelanjutan di lingkungan sekolah. 


Berdasarkan Peraturan Bupati Banjarnegara Nomor 45 Tahun 2019  tentang Implementasi Penerapan Karakter Antikorupsi, sekolah diposisikan sebagai kawah candradimuka dalam membentuk pribadi siswa yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.


Kepala SMP Negeri 1 Mandiraja, Bambang Kuseno M.Pd, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan penunjukan sekolahnya sebagai salah satu pilot project Sekolah Berintegritas di Kabupaten Banjarnegara bersama SD Negeri 1 Mandiraja di tingkat dasar. 


Menurut Bambang, program ini memberikan dampak yang sangat positif dalam membentuk iklim belajar yang bermartabat.


"Pembentukan budaya integritas bukanlah kegiatan instan, melainkan proses berkelanjutan. Hari ini menjadi momen penting penguatan internalisasi nilai-nilai tersebut bagi siswa kami, khususnya kelas 9. Harapannya, setelah lulus nanti, mereka membawa karakter berintegritas ini ke jenjang sekolah berikutnya dan mampu mengimbaskannya kepada rekan-rekan dari sekolah lain," kata Bambang.


Ia menambahkan, dalam satu tahun terakhir sekolah fokus menekankan tiga nilai inti yaitu jujur, bertanggung jawab, dan disiplin, yang diyakini menjadi pilar utama pembentukan karakter siswa yang kuat.


Untuk  mendukung implementasi nilai integritas dalam kehidupan sehari-hari, SMPN 1 Mandiraja meluncurkan berbagai terobosan inovatif diantaranya Aplikasi "SIMANJA" atau  Sistem informasi manajemen kehadiran berbasis aplikasi digital. Melalui Simanja, siswa dan orang tua dapat memantau tingkat kedisiplinan dan poin kehadiran secara transparan, sehingga membangun kesadaran diri (self-awareness) sejak berangkat sekolah.


Pihak sekolah juga menerapkan Kesepakatan Kelas diaman Aturan dan norma kelas yang disusun secara partisipatif oleh siswa bersama wali kelas untuk menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan penuh rasa tanggung jawab.


Selain itu juga dibentuk Duta Integritas dengan Siswa pilihan yang bertindak sebagai  role model untuk mengampanyekan nilai-nilai kejujuran dalam event sekolah. Pengkaderan Duta Integritas ini disiapkan secara berkelanjutan dari siswa kelas 7 dan 8.


“Kami juga melakukan kampanye publik dengan melakukan sosialisasi budaya antikorupsi yang disisipkan dalam kegiatan masal seperti jalan sehat sekolah,” lanjutnya.


Kepala Dindikpora Kabupaten Banjarnegara, Yusuf Agung Prabowo SH M.Si, menegaskan bahwa penanaman karakter antikorupsi di tingkat sekolah memiliki dasar hukum yang jelas.


"Inspektorat dan Dikpora berkolaborasi erat untuk menegakkan nilai karakter antikorupsi di jajaran sekolah dasar dan menengah. 


Melalui kegiatan ini, siswa diajak mempraktikkan langsung kejujuran, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, serta keberanian berbuat baik. Seperti kata para pendiri bangsa, kejujuran adalah kunci utama menjaga keberlangsungan masa depan bangsa," kata Agung.


Sementara itu, Inspektur Kabupaten Banjarnegara, Drs Agung Yusianto M.Si menggarisbawahi pentingnya metode penyampaian yang adaptif dan alami dalam menanamkan nilai integritas kepada pelajar.


"Kami menanamkan integritas secara berproses dan alami. Pendekatannya bukan menggurui atau sekadar mengajarkan teori, melainkan melalui pendekatan yang komunikatif seperti bergaul dan berdialog interaktif. Siswa diajak memahami secara faktual mengapa mencontek atau membully itu tindakan yang tidak benar," jelasnya.


Agung menegaskan bahwa konsep Sekolah Berintegritas tidak hanya menyasar siswa, melainkan seluruh stakeholder sekolah- mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, hingga orang tua. Bagi tenaga pendidik, integritas diwujudkan dalam akuntabilitas pengelolaan anggaran sekolah serta pendekatan pembelajaran kepada siswa.


“ Setelah tahap pilot project di SDN 1 Mandiraja dan SMPN 1 Mandiraja selesai, kami  bersama Dinkpora akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk merencanakan perluasan program Sekolah Berintegritas ke seluruh Korwil maupun SKPD di Kabupaten Banjarnegara,” kata Agung.


Bidang Pengawas Internal Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI) Banjarnegara, Rahman Hidayat Nilam, menegaskan pentingnya penguatan integritas serta budaya antikorupsi di lingkungan satuan pendidikan. 


Menurutnya, hal tersebut memerlukan pemahaman komprehensif, terutama terkait keberanian menyampaikan masukan secara konstruktif demi mencegah potensi penyimpangan sejak dini.


Meski demikian, Rahman mengingatkan agar setiap laporan atau masukan disampaikan secara bertanggung jawab, beretika, dan didukung oleh data, informasi, bukti serta saksi yang valid. Langkah ini dinilai krusial termasuk dalam pencegahan perundungan agar proses penyelesaiannya berjalan objektif tanpa merugikan pihak manapun.


"Keberanian untuk bersuara bukanlah tindakan mencari masalah, melainkan wujud nyata kepedulian bersama," ujar Rahman.


Sebagai fondasi utama, penanaman karakter pada generasi muda harus dilakukan melalui pembiasaan sehari-hari yang tekun dan disiplin. Melalui semangat "Banjarnegara Muda; Berani Jujur, Hebat Masa Depan", generasi muda Banjarnegara diharapkan tumbuh menjadi agen perubahan yang membawa daerah melangkah lebih maju. **(red).

  • Newer

    Tanamkan Budaya Antikorupsi Sejak Dini, Inspektorat Gelar Program Penguatan Integritas Peserta Didik

3/related/default